yang dicari di blog ini

Memuat...

Sabtu, 05 Desember 2009

Menikmati Persaingan

Sumber: Jurnal MQ - Edisi Mei 2002
KH. Abdullah Gymnastiar
Allah Azza wa Jalla adalah satu-satunya Dzat Yang Mahakuasa atas segala-galanya. Dengan kehendak-Nya, Dia ciptakan manusia sebagai mahluk yang paling sempurna kejadiannya. Setelah Allah selesai meniupkan ruh pada jasad Adam, iblis disuruh-Nya bersujud kepadanya. Tentu dalam arti, agar iblis menghormati dan memuliakannya dan ini menjadi bukti bahwa Allah Yang Maha Pengasih memang hendak memuliakan manusia, ketika itu dan hingga datang
yaumil akhir kelak.
Allah pun telah menitipkan satu potensi luar biasa yang insya Allah tidak dimiliki oleh mahluk-mahluk lainnya. Potensi itu adalah bersaing. Kita bisa melihat karunia Allah yang amat luar biasa ini sejak masa awal proses kejadian manusia di dalam rahim perempuan. Betapa satu ovum (sel
telur) diserbu oleh berjuta-juta sel spermatozoa, namun yang mampu membuahinya ternyata hanya satu sel spermatozoa saja. Tidak kurang, tidak lebih.

Artinya, janin bakal manusia tercipta di dalam rahim justru dari bibit paling unggul karena ia telah bersaing sangat ketat dan akhirnya berhasil mengalahkan jutaan pesaing tersebut. Padahal, Allah tentu tidak bermaksud sia-sia menciptakan berjuta-juta sel spermatozoa kalau hanya untuk tidak memiliki manfaat. Tentulah setiap sel itu memiliki potensi yang sama
kuatnya, sama tinggi kualitasnya, dan sama cepat gerakannya untuk sampai pada sang ovum dan membuahinya. Akan tetapi, subhanallah, persaingan memang harus terjadi dan hanya yang paling unggullah yang keluar sebagai pemenang.
Hikmahnya, bahwa manusia itu telah dibekali Allah potensi untuk menjadi yang terbaik. Bersaing pada hakekatnya adalah berjuang dan berikhtiar secara maksimal untuk mengungguli pihak-pihak lain yang mungkin memiliki hasrat dan keinginan lebih tinggi, potensi lebih mantap, kekuatan fisik dan mental lebih prima, taktik dan strategi lebih jitu, dan berbagai faktor kelebihan lainnya, dibandingkan dengan apa yang ada pada diri kita sendiri.

Unsur persaingan akan menjadi tidak lagi bermutu_bahkan bukan lagi bersaing namanya_ apabila pihak lawan diyakini lebih lemah, bahkan tidak memiliki potensi apa-apa. Bersaing seraya meyakini kemungkinan potensi lawan lebih tinggi, sehingga kita pun berupaya melipatgandakan tekad, keyakinan dan kemampuan, ini bisa dinamakan bersaing secara positif. Sebaliknya, bersaing seraya kita tahu bahwa potensi lawan lebih lemah, bahkan direkayasa secara tidak fair agar lawan menjadi lemah dan tidak punya daya apa-apa, ini bersaing secara negatif namanya.

Dengan demikian, kunci persaingan adalah sikap mental positif disertai semangat untuk berjuang sekuat-kuatnya dan berikhtiar mengerahkan segenap potensi yang ada semaksimal mungkin. Sebab, persaingan secara positif tidak bisa tidak akan melahirkan pemenang sejati dan sangat layak diberi predikat unggul.

Namun sayang, orang-orang yang berkarakter lemah dan bermental lembek seringkali menghindari persaingan atau bahkan menjalani persaingan dalam kondisi tidak sehat. Dalam kondisi semacam ini, persaingan paling sering menimbulkan kedengkian, busuk hati, dan sangat rindu akan kejatuhan pesaing-pesaingnya.

Tidak demikian halnya bagi orang-orang yang berpikir positif dan ingin meningkatkan kemampuan keunggulan. Bagi orang-orang semacam ini, pesaing adalah hal yang sangat penting dan harus ada agar bisa memompa kemampuan terbaik yang dimiliki. Maukah kita melakukan balap sepeda tanpa ada lawan? Tentu saja kita tidak akan menjadi juara, karena tak ada yang kalah, dan tidak ada kebanggaan karena jadi juara tanpa ada pesaing.
Tampaknya kebanggaan ini pun akan sama jeleknya atau bahkan tidak ada nilainya sama sekali, kalau kita ikut lomba balap karung tapi lawan yang dihadapi adalah anak-anak TK sementara kita bertubuh kekar dan kuat. Tentu saja, juara di sini tak bisa dibanggakan karena pesaingnya tidak sebanding dan jauh lebih lemah potensinya.

Lain halnya nilai kepuasan batin yang akan dirasakan jikalau pesaing kita adalah orang-orang yang hebat dan sudah terbiasa meraih juara, misalnya. Kendatipun kalah, kita tetap akan merasa puas karena telah memberikan yang terbaik untuk persaingan tersebut. Bahkan bisa jadi prestasi kekalahan kita melawan pesaing yang hebat itu jauh lebih bermutu dibandingkan jadi juara karena melawan pesaing yang lemah. Betapa tidak? Melihat prestasi
orang-orang yang sangat baik niscaya akan membuat kita terbakar untuk menjadi lebih baik di antara yang baik. Karena itu, kita harus senang melihat persaingan dengan sisi yang positif. Jangan rindu orang lain jatuh. Rindukanlah pesaing-pesaing kita berhasil menjadi juara pertama, kedua dan ketiga. Tetapi, kita harus menjadi juara umum. Juara di atas para juara akan
jauh lebih terhormat daripada menjadi juara di atas pesaing yang lemah dan tidak berdaya.

Jadi, lihatlah pesaing-pesaing kita dengan pemikiran yang positif. Pelajari keunggulan mereka tanpa harus disertai dengan kebencian, kedengkian dan kedendaman. Anggaplah mereka bagian dari karunia Allah berupa trigger, pemicu dan pemacu agar kita bisa lebih menjadi lebih bergairah dalam memompa kemampuan terbaik kita. Allah Maha Penolong. Tidak ada satu pun yang bisa menghalangi pertolongan-Nya kalau kita mampu memompa kemampuan optimal yang
telah Dia titipkan kepada hamba-Nya.

Jangan hanya bisa berpikir busuk, benci dan dendam kesumat. Jangan hanya bisa berhati kotor. Lebih baik manfaatkanlah persaingan itu untuk membuat kita bisa bergairah, berbuat lebih cepat, lebih hebat dan maksimal. Tiada Tuhan selain Allah yang Mahaadil. Kita akan kaget, betapa kita akan lebih maju justru setelah kita bersaing dengan cara yang baik. Rindu untuk menjadi pribadi muslim yang unggul dan terbaik di tengah-tengah manusia dan di hadapan Allah Azza wa Jalla adalah ciri seorang muslim yang menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari ummat terbaik yang insya Allah akan mengemban amanah Allah menjadi rahmatan lil 'alamiin. Bukankah Allah telah berfirman, Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia,
menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Allah (QS. Ali Imran [3]:110).

Semangat yang membakar dan menggelora di dalam dada untuk selalu berbuat lebih baik daripada hari-hari kemarin, melahirkan karya-karya prestatif dan bermutu, melakukan ikhtiar-ikhtiar yang paling maksimal dari apa yang bisa dilakukan, tidak bisa tidak, akan memberikan perubahan-perubahan diri yang sangat mengesankan setelah kita menggantungkan harapan kepada Allah Azza wa Jalla. Karena, sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra'du [13]:11). Insya Allah, pada gilirannya nanti kita akan termasuk orang yang ditingkatkan derajat kemuliaannya dalam pandangan Allah. Wallahu a'lam***

1 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini